PELUANG BISNIS KEHUTANAN

 

Artikel Bisnis Kehutanan                                                                   Medan,     Mei 2022


PELUANG BISNIS KEHUTANAN DI EKOWISATA

MANGROVE SICANANG KELURAHAN BELAWAN

SICANANG KECAMATAN MEDAN BELAWAN KOTA

MEDAN SUMATERA UTARA


Dosen Penanggungjawab :

Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si.

 Oleh :

Grace Rama Novelyta Br Sembiring

191201120

MNH 6





 

 

 

 

 

 

 

 


PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS KEHUTANAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2022



KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasih karuniaNya sehingga penulisan artikel dengan judul “Peluang Bisnis Kehutanan di Ekowisata Mangrove Sicanang, Belawan” yang disusun sebagai salah satu syarat dalam mengikuti Mata Kuliah Bisnis Kehutanan, Program Studi Kehutanan, Fakultas Kehutanan, Universitas Sumatera Utara.

Dalam menulis artikel ini penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si. selaku dosen penanggung jawab mata kuliah Bisnis Kehutanan yang telah membantu dan membimbing penulis dalam pembelajaran hingga selesainya artikel ini.

Penulis menyadari masih banyaknya kekurangan dan kelemahan pada tulisan artikel ini akibat terbatasnya kemampuan penulis. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis sangat mengharapkan adanya kritik ataupun saran guna penyempurnaan tugas tugas selanjutnya dan penulis juga ingin meyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dan mendukung penulisan artikel ini.

 

Medan,   Mei 2022

 

                                         Penulis



DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR........................................................................................... i

DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang......................................................................................... 1

1.2 Tujuan....................................................................................................... 2

BAB II GAMBARAN UMUM EKOWISATA.................................................. 3

BAB III PELUANG BISNIS KEHUTANAN DI EKOWISATA

3.1 Sarana dan Prasarana di Ekowisata Mangrove Sicanang......................... 4

3.2 Potensi Ekowisata Mangrove Sicanang.................................................... 4

3.3 Upaya Pengembangan Ekowisata Mangrove Sicanang............................ 5

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan............................................................................................... 6

4.2 Saran......................................................................................................... 6

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

 



BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

            Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai garis tepi laut terpanjang di dunia. Wilayah perairan membentuk zona pesisir dan zona lautan yang berperan penting dalam mendukung kesejahteraan kehidupan masyarakat yang berada di pesisir. Kekayaan yang ada di wilayah pesisir Indonesia berasal dari sumber daya hayati dan non hayati. Kekayaan dan keunikan ini dapat dimanfaatkan untuk sektor perekonomian melalui kegiatan pertambangan, perikanan, kehutanan, industri, pariwisata serta inovasi kemampuan lainnya. Wilayah pesisir menggambarkan suatu ekosistem transisi yang dipengaruhi oleh daratan serta lautan yang mencakup sebagian ekosistem, salah satunya ialah ekosistem hutan mangrove (Nurlisa et al., 2019).

            Ekowisata adalah kegiatan wisata yang dilakukan karena adanya unsur pendidikan, sebagai usaha/sektor ekonomi, dengan memperlihatkan warisan budaya, kesejahteraan, partisipasi penduduk lokal dan upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan. Ekosistem mangrove adalah ekosistem yang terletak di antara pasang surut air laut yang didaerah tepi pantai sampai disekitar atau diatas permukaan laut dan berada dikawasan tropis. Hutan mangrove dapat memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Melalui keindahan dan keunikannya, hutan mangrove menjadi daya tarik wisatawan diwilayah pesisir. Kedatangan pengunjung akan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menambah penghasilan. Ekosistem hutan mangrove yang menjadi habitat berbagai fauna, pemijahan ikan, udang serta biota lainnya dapat menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat. Selain itu, kayu mangrove pula bisa dijadikan bahan bangunan, furniture serta bahan pembuatan kapal (Sari et al., 2021).

            Ekosistem hutan mangrove tersebar di berbagai pesisir Provinsi Sumatera Utara. Salah satu ekosistem mangrove tersebut berada di Sicanang, Belawan. Sicanang adalah kawasan wisata hutan mangrove yang berada di Belawan Pulau Sicanang, Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Kelurahan Belawan Sicanang merupakan satu - satunya kelurahan di wilayah administrasi Kota Medan yang masih memiliki ekosistem mangrove yang cukup luas, yaitu ± 895,24 ha. Namun, dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi penurunan kualitas maupun kuantitas ekosistem mangrove akibat dari alih fungsi lahan menjadi industri, permukiman, tambak dan perkebunan sawit. Ekosistem mangrove ini memiliki fungsi yang sangat penting sebagai buffer zone Kota Medan dari bahaya banjir rob, abrasi, hempasan ombak dan tsunami. Selain itu, ekosistem mangrovejuga berfungsi sebagai tempat berkembang biaknya biota laut yang merupakan sumber mata pencaharian nelayan kecil yang tinggal di wilayah
pesisir
(Berutu et al., 2018).

            Hutan Mangrove adalah salah satu andalan objek wisata yang ada di Indonesia termasuk Kota Medan, khususnya di daerah Sicanang Belawan. Dengan kondisi hutan mangrove yang luas maka sangat besar potensi dan peluang dari objek ekowisata hutan mangrove tersebut. Berdasarkan penafsiran Citra Landscape, diketahui luasan hutan mangrove di Provinsi Sumatera Utara mengalami penurunan yang sangat cepat dari waktu ke waktu. Dari luas ± 200.000 Ha pada tahun 1987, tinggal 15% atau ± 31.885 Ha yang berfungsi baik pada tahun 2001. Pada daerah Sicanang Belawan, luas hutan mangrove sebesar 1550 Ha, namun pada 2018 kawasan hutan mangrove tersebut mengalami penurunan menjadi sebesar 450 Ha yang diakibatkan adanya pemukiman seluas 1050 Ha. Hal ini menunjukkan bahwa keadaan hutan mangrove Provinsi Sumatera Utara mengalami tekanan yang hebat oleh berbagai jenis kegiatan yang mengakibatkan hilangnya sebagian besar kawasan hutan mangrove tersebut (Wardani et al., 2020).

1.2 Tujuan

            Adapun tujuan dari artikel ini mengenai Peluang Bisnis Kehutanan di Objek Wisata Mangrove Sicanang, Belawan adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui sarana dan prasarana yang ada di objek wisata mangrove Sicanang tersebut.

2. Untuk mengetahui potensi yang dapat dikembangkan di objek wisata mangrove Sicanang tersebut.

3. Untuk mengetahui upaya pengembangan peluang bisnis kehutanan di objek wisata mangrove Sicanang tersebut.





BAB II

GAMBARAN UMUM EKOWISATA MANGROVE SICANANG, BELAWAN



                Adapun nama obyek wisata alam yang saya kunjungi ialah Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang. Ekowisata ini berada di Belawan Pulau Sicanang, Kelurahan Belawan Sicanang, Kecamatan Medan Belawan, Kota Medan, Sumatera Utara. Pengelola Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang ini bernama Pak Kusyono yang merupakan ketua dari kelompok pencinta mangrove yang bernama kelompok sadar wisata pogaris mangrove yang berdiri tahun 2015. Adapun deskripsi dari obyek wisata ini yaitu memiliki fasilitas yang berupa 6 bangunan pondok, 2 kamar mandi, 1 kantin atau tempat makan dan 1 tempat ibadah.

            Pada tahun 2020 di masa Pandemi Covid-19, objek wisata ini terpaksa tutup karena aturan dari pemerintah. Oleh karena itu, penghasilan yang di peroleh masyarakat setempat pun berkurang karena tidak adanya pengunjung ke ekowisata tersebut. Kelompok yang mengelola objek wisata ini juga terpencar dan mencari pekerjaan yang lain dikarenakan tidak adanya kegiatan di objek wisata ini. Anggota kelompok yang mengelola Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang ini berjumlah 30 orang. Tiket masuk ke Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang ini sebesar Rp10.000/orang. Pemanfaatan yang dilakukan dari pohon mangrove ini yaitu dapat dijadikan sebagai produk makanan seperti keripik jeruju, dijadikan jus dan juga dodol.

 


BAB III

PELUANG BISNIS KEHUTANAN DI EKOWISATA

MANGROVE SICANANG, BELAWAN

3.1 Sarana dan Prasarana di Ekowisata Mangrove Sicanang

Gambar 1. Bangunan Pondok

Gambar 2. Jalan di Ekowisata tersebut

            Adapun sarana dan prasarana dari obyek wisata ini yaitu memiliki fasilitas berupa 6 bangunan pondok, 2 kamar mandi, 1 kantin atau tempat makan dan 1 tempat ibadah. Namun, akibat dampak dari Covid – 19, kondisi daya tarik dan fasilitas Ekowisata Mangrove Sicanang ini semakin jarang dipergunakan sehingga pemeliharaan terhadap fasilitas pun menjadi terbengkalai atau tidak adanya pemeliharaan terhadap fasilitas yang ada. Atraksi untuk menarik para wisatawan di obyek wisata ini juga tidak ada. Akan tetapi suasana udara yang sejuk dan asri serta pemandangan laut yang indah di obyek wisata ini yang menjadi daya tariknya.

            Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang berjarak ± 25 km dengan waktu tempuh 1 jam dari Medan Kota. Kondisi jalan menuju lokasi Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang sudah diaspal akan tetapi jalan memasuki kawasan wisata ini adanya perbaikan jembatan. Akses yang dimiliki tersebut merupakan akses yang cukup mudah untuk dijangkau oleh pengunjung, karena adanya transportasi umum menuju kawasan ini seperti angkutan umum dan lainnya. Karena adanya jasa kendaraan (angkutan) umum disekitar lokasi wisata, pengunjung dapat menggunakan kendaraan umum, dengan menggunakan angkutan umum (angkot) dikenakan biaya Rp3000/orang dan untuk ojek dikenakan biaya Rp5000/motor.

3.2 Potensi Ekowisata Mangrove Sicanang

            Sebelum terjadinya pandemi Covid-19, motivasi pengunjung Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang untuk berkunjung karena adanya kegiatan memancing dan wisata kuliner, pengunjung juga dapat memanfaatkan waktu wisata dengan berfoto karena banyak tempat untuk berfoto yang menarik dan bagus. Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang dikatakan tempat wisata yang indah. Potensi yang sudah ada di ekowisata ini harus dijaga dan semakin ditingkatkan agar para pengunjung banyak yang tertarik untuk mengunjungi ekowisata ini. Menjadikan ekowisata ini sebagai objek pembelajaran khusunya dalam bidang lingkungan hidup dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi objek wisata ini.  

3.3 Upaya Pengembangan Ekowisata Mangrove Sicanang

            Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang perlu adanya penambahan fasilitas untuk mengembangkan wisata lebih maju lagi dengan adanya wahana permainan seperti speadboat, bananaboat, flyfox, lahan parkir yang luas, agar para wisatawan tidak terlalu bosan ketika berada di Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang. Informasi sangat penting dilakukan agar wisata dapat diketahui oleh masyarakat maupun yang berada di kawasan Kota Medan ataupun diluar Kota Medan. Pihak pengelola ekowisata ini juga dapat bekerjasama dengan beberapa agen travel di bidang kepariwisataan untuk mengembangkan lagi objek wisata ini.

 

 

 

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

1. Hutan Mangrove adalah salah satu andalan objek wisata yang ada di Indonesia termasuk Kota Medan, khususnya di daerah Sicanang Belawan.

2. Pengelola Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang ini bernama Pak Kusyono yang merupakan ketua dari kelompok pencinta mangrove yang bernama kelompok sadar wisata pogaris mangrove yang berdiri tahun 2015.

3. Adapun sarana dan prasarana dari obyek wisata ini yaitu memiliki fasilitas berupa 6 bangunan pondok, 2 kamar mandi, 1 kantin atau tempat makan dan 1 tempat ibadah. Namun, akibat dampak dari Covid – 19, kondisi daya tarik dan fasilitas Ekowisata Mangrove Sicanang ini semakin jarang dipergunakan sehingga pemeliharaan terhadap fasilitas pun menjadi terbengkalai.

4. Sebelum terjadinya pandemi Covid-19, motivasi pengunjung Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang untuk berkunjung karena adanya kegiatan memancing dan wisata kuliner, pengunjung juga dapat memanfaatkan waktu wisata dengan berfoto karena banyak tempat untuk berfoto yang menarik dan bagus.

5. Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang perlu adanya penambahan fasilitas untuk mengembangkan wisata lebih maju lagi dengan adanya wahana permainan seperti speadboat, bananaboat, flyfox, lahan parkir yang luas, agar para wisatawan tidak terlalu bosan ketika berada di Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang.

4.2 Saran

            Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang ini sebaiknya menambah beberapa sarana dan prasarana yang dapat menjadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung seperti membuat penginapan, membuat atraksi yang menarik, menambah spot berfoto yang menarik dan bekerja sama dengan lembaga pengelolaan seperti Travel Agent dan stakeholder lain yang berperan dalam kepariwisataan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Berutu N, Meilinda SH, M. Ridha D, Ahmad H, Restu. 2018. Dukungan Informasi dan Promosi Ekowisata Mangrove Belawan Sicanang Dalam Rangka Peningkatan Perekonomian Masyarakat. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 24(4) : 853 – 858.

Nurlisa G, Christi RS. 2019. Kajian Interaksi Pada Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Sicanang. Temu Ilmiah Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia (IPLBI) 7, A 079 – 085.  

Sari FI, Lamun B, Trisla W. 2021. Valuasi Ekonomi Ekowisata Mangrove di Kelurahan Belawan Sicanang. Berkala Perikanan Terubuk, 49(2) : 988 – 994.

Wardani EP, Saidun H, Rahmat M. 2020. Analisis Kesediaan Membayar Pengunjung Hutan Mangrove di Ekowisata Sicanang – Belawan. Kemajuan dalam Riset Ekonomi, Bisnis dan Manajemen, 163 : 288 – 293.

Komentar